Duduk Bersama Di Pura, Menyimak Pembelajaran Agama
“Sepatah kata di atas merupakan pengejawantahan fungsi tempat ibadah bukan sekadar untuk beribadah saja, namun juga untuk menuntut ilmu. Karena jarangnya tersedianya pembekalan Ilmu Agama Hindu pada Sekolah Negeri bagi pemeluknya, maka yang dilakukan adalah penyedian pembekalan Ilmu Agama hindu dari Pura sendiri,”
Dari kejauhan jarak 100 meter, dapat terlihat dengan jelas sebuah janur yang daun-daunnya mulai kering, sedikit berwarna kecoklatan melambai-lambai layu digerakan angin lalu sepasang mata akan tertuju pada kori agung, sebuah istilah untuk gerbang pada bangunan Bali dengan relief yang berkarakter dibalur dengan cat merah bata, kini rombongan Lembaga Pers Kampus dari berbagai daerah di Indonesia yang terhimpun dalam Serikat Jurnalistis untuk Keberagaman (Sejuk) sampai di Pura Agung Jagat Natha Pekanbaru meliput kegiatan ada di sini Minggu (28/7/19).
Sekitar 08.10 lelaki berpakaian serba putih dengan pengikat kepala khas Bali ini diketahui bernama I Wayan Sutama beliau seorang Pinandita atau pendeta di Pura Agung Jagat Natha. Saat itu ia terlihat melakukan kegiatan keagamaan Trysandya yang wajib dilakukan tiga kali sehari bagi umat Hindu. Setelah selesai melakukan kegiatan tersebut, beliau menunjuk sesuatu dengan jemarinya sebuah bangunan yang dicat putih, bahwa itu adalah sebuah Sekolah Minggu yang ditujukan bagi Siswa atau Siswi yang tidak mendapat pendidikan agama di Sekolahnya, yang sering ditemui di Sekolah Negeri.
“itu Sekolah untuk anak-anak yang tidak dapat pembelajar agama(Hindu) di Sekolah Negeri, dan dilakukan setiap hari Minggu” jelasnya.
Setelah mendengarkan informasi Pinandita tersebut, rombongan Sejuk duduk bersama Pengurus
Pura Agung Jagat Natha Pekanbaru pada sebuah pendopo yang ada di perkarangan Pura, di sana pula berlangsung sesi tanya jawab tentang keberagaman. Saat kita duduk di pendopo ini, kita dapat melihat payung-payung bermotifkan kotak-kotak hitam putih serta rumbai-rumbai dengan warna hitam senada yang meneduhi patung-patung Dwarapala itu, tertancap di dekat patung tersebut.
Menjelang siang siswa-siswa yang diketahui akan mengikuti Sekolah Minggu semakin banyak yang berdatangan, sebelum memasuki ruangan kelas mereka biasanya beribadah terlebih dahulu di Pura.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 10.15 dan sesi tanya jawab umum telah berakhir. Di sudut pendopo, seseorang wanita duduk memperbaiki selendang di lingkar pinggangnya. Nama lengkap wanita ini Nengah Sujadti berusia 55 tahun, dan pernah aktif sebagai pengajar agama hindu di Sekolah Minggu sejak tahun 1984.
Nengah Sujadti sendiri yang memang memiliki latar belakang lulusan Pendidikan Agama (PGA) tingkat Sekolah Menengah Atas pada masa itu, mulanya ikut bersama pamannya ke Pekanbaru dan tidak lama setelah itu ia menggantikan pamannya pula untuk mengajar, sebelum terbangunnya Pura Agung Jagat Natha, Nengah mengaku bahwa ia biasanya mengajar dengan mendatangi rumah ke rumah.
“Saya dari rumah ke rumah karena Pura belum ada juga pendidikan untuk agama Hindu demikian,” ujarnya
Pada tahun 1984 ,di Pekanbaru sendiri tidak ada ada guru agama hindu sehingga Nengah langsung dapat mengajar dan diterima di Departeman Agama sebagai tenaga honor. Setelah empat tahun kemudian, pada tahun 1988 Nengah menjadi Pegawai Sipil di Kementrian Agama dan masih menjalani rutinitasnya sebagai pengajar.
Sejalan dengan dibangunnya Pura Agung Jagat Natha ini, maka sekaligus dibukalah pendidikan agama untuk Siswa atau Siswi yang tidak ada memperlajari ilmu agama Hindu di Sekolahnya atas inisiatif ketua lembaga Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang saat itu diketuai oleh Putu Sedana.
Pura ini, Nengah merupakan seorang pertama yang menjadi guru tetap, dan untuk membantu kegiatan mengajarnya pada tahun pertama Nengah dibantu oleh Orang Tua murid, untuk sekarang sudah ada struktur organisasi yang mengatur hal ini disebut dengan Pasraman.
Selama 24 tahun Nengah berkecimpung sebagai tenaga pengajar, tentu Nengah pernah merasakan kesulitan di masa sebelumnya seperti terbatassnya pelayanan untuk mengajaran agama hindu, juga persediaan buku belajar untuk para muridnya dahulu.
“Sewaktu saya mengajar saya sering menemui kesulitan dalam buku pembelajaran, dan cara mengatasi hal tersebut ya saya terpaksa fotokopi itu, dan dibagikan ke siswa,”ujarnya.
Program pengajaran yang diberlakukan di Sekolah Minggu ini tetap sesuai dengan kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan, untuk pengadaan buku pembelajaran didapatkan dari Dirjen Bimas Hindu Jakarta. Istri dari I Wayan ini, sudah tidak lagi aktif mengajar sejak tahun 2012, namun Nengah tetap aktif terlibat dalam kegiatan ini dengan menjadi penasehat di dalam kegiatan pendidikan keagamaan hindu.
Kelas yang tersedia di Pura Agung Jagat Natha Pekanbaru ini sebanyak tiga kelas, dengan mekanisme penggabungan kelas yang telah diatur sebelumnya seperti Sekolah Dasar (SD) kelas I digabung dengan kelas III, SD kelas IV digabung dengan kelas IV, SMP kelas I digabung dengan SD kelas II. saat sekarang terdapat lima guru agama dan beberapa guru honor, dengan total jumlah muridnya 50 siswa.
Namun menurut Ponimen seorang tenaga pengajar di Sekolah Minggu mengatakan bahwa sarana dan prasarana di sini cukup baik.
“Di sini untuk sarana dan Prasarana sudah cukup lumayan” ucapnya.
Dari pengakuan salahsatu orangtua siswa bernama Raka mengaku senang dengan adanya Sekolah Minggu ini karena dapat membantu anaknya dalam mempelajari ilmu agama hindu
“sangat membantulah ini, kalau gak ada gimana anak-anak kami”


Tidak ada komentar