Biru dan Pilu Hanya Sedikit Berbeda
Di tengah gempita gelora cinta dua insan Tuhan. Disatukan atas ideologi tapi juga dipisah oleh ideologi, tapi tetap saja Tuhan merestui.
Ku ingat malam itu, air muka mu memerah karena gejolak jiwa muda yang membara. Disulut cinta buat gerakan perubahan nyata.
Disemaraknya malam itu turut serta segala kemawasan, Tiba-tiba terdengar ratusan hentakan sepatu yang tidak pernah didapati di lobi kantor, atau di lorong kampus bukan lagi di pelantaran pasar Proletar.
Malam itu, keadaan sontak menyesakkan dipenuhi oleh rasa ketakutan dan kecemasan ruangan porak poranda dihantam badai nestapa, sebuah besi tempahan berongga dijunjung melangit, dari kejauhan ku dengar doooooor.... Desingan biji tertambat pada seonggok daging yang malam itu. Sadis.
Dan aku, malam itu berpikir bahwa inilah malam terburuk dalam hidupku, takut mati sia-sia karena belum melakukan apa-apa, aku tak tau mau berbuat apa. Kakiku seperti ditanam dalam bumi dipakui besi.
Biji mataku leluasa melihat kejam yang nyata. Saat itu ku ingat betul, tanganmu coba merangkul tubuhku tak mampu untuk tegap berdiri, dan engkau yang tersungkur, kulihat dengan jelas dikeramangan itu biji panas mendarat di tubuhnya yang kekar.
Tak ada yang aku lakukan untuk mu, aku hanya terperangah, menitik air mata pilu bersumpah serapah sia-sia. Aku ditarik keluar oleh keberuntungan atau kebuntungan?! keduanya nyaris bersamaan.
Dan akhir malam itu.
Setelah itu, tak ku jumpai lagi mata coklat yang binar.
Malam. Bulan masih diorbitnya mendua, sabit dan purnama.
Laut pasang dan surut ditekan angin bertiup.
Kini aku hidup dibayang-bayang sesal, kenapa tak mati bersamaan?!
***
Tak dapat lagi menyentuh mu, yang kudapati hanyalah buku-buku kesukaan mu, ditulis dengan bahasa Deutsche yang kau dapatkan dari petani gandum yang paruh waktunya memerah susu. Walaupun aku tak mengerti potongan kata-kata ini, yang kusukai adalah tanda batas lembaran kertas yang engkau tandai dengan daun Maple kering.
Ada satu lagi karya sastrawi Timur Tengah torehan tinta Khalil Gibran yang akhir ini engkau gandrungi, kau sebut itu karya seni yang jujur dan Satir. Dengan nyata kau menyeritkan senyum menitikkan sebuah lubang kecil di pipimu. Oh Terlihat manis.
Hingga akhirnya aku dapati bab kesukaanmu dari seri "Cinta tak pernah Mati," dengan berbekal pena warna kau garis setiap Paragraf itu.
Perbudakan
Karya: Khalil Gibran
Manusia hanyalah budak kehidupan. Perbudakan ini mengungkung hari-harinya dengan kesengsaraan dan kerendahan derajat, dan memenuhi malam mereka dengan air mata dan darah.
Tujuh ribu tahun berlalu sejak aku lahir, tapi yang kulihat hanyalah budak-budak yang patuh dan tawanan yang terbelenggu.
..... Aku telah melihat kafilah bangsa-bangsa dan orang-orang berjalan dari gua-gua menuju istana mereka, tapi sampai sekarang yang kulihat hanyalah tangan terbelenggu rantai, lutut ditekuk di depan berhala.
.....Aku bersimpuh di gubuk-gubuk yang dirilis hantu keputus asaan dan helaan nafas kematian.
.....Di mana-mana kulihat para budak digiring dalam arakan-aralan menuju altar, dan memanggilnya "Tuhan". Mereka bakar dupa di depan bayangannya, dan memanggilnya "Nabi". Mereka Rebah tak berdaya dihadapannya, dan menyebutnya "Hukum suci". Mereka berperang dan membunuh untuknya, dan menyebutnya "Pahlawan".
Perbudakan bisu, perbudakan yang dilalui seorang lelaki oleh rok wanita yang dihinakannya, tubuh seorang wanita yang diikat ke ranjang oleh suami yang membencinya. Hidup mereka dibelitkan ke kedua kaki perbudakan seperti sepasang sandal.
Perbudakan tuli, perbudakan orang-orang yang dipaksa mengikuti selera lingkungannya, menerima warna seragam, berpakaian sensuai modelnya, sampai-sampai suara mereka menjadi gema dan tubuh mereka seperti bayangan yang lewat.
...perbudakan bernoda, perbudakan yang berdagang dengan harga tidak adil, yang menyebutkan sesuatu dengan nama-nama palsu, yang menyebut gosip sebagai pengetahuan, kelemahan dan kesabaran, dan pengecut anak sebagai kesombongan.
Perbudakan berbelit, perbudakan yang membuat lidah orang-orang lemah mengoceh dalam ketakutan, mengucapkan sesuatu yang mereka tidak tahu, berpura-pura terhadap apa yang tidak ada di dalam hati mereka, seperti mantel yang tangan kemelaratan nya digulung dilepas.
Perbudakan bungkuk, perbudakan yang membuat seorang menjadi subjek hukum bagi banyak orang lainnya.
Perbudakan berkudis, perbudakan yang menjadikan snak-anak raja sebagai yang bermahkota.
Perbudakan gelap, perbudakan yang menjadikan Anak-anak penjahat tak berdosa dicap memalukan.
Kuhabiskan waktuku, menyelesaikan bacaan mu hingga ke halaman terakhir. Keluar menghirup udara baru, di tapi danau.
Dan senja menyanya berlalu di balik barisan bukit-bukit itu, terlihat tergantung di kolong langit menyebarkan warna yang hangat.
Sampai kapan aku dapat bertahan hingga akhirnya aku berdamai bersama kehilangan?!
Sudah banyak kuserakan kelukaan dibalik dinding-dinding ini, sudah terlalu banyak harapan yang ku gantungkan pada anak-anak yang berlari tak menggunakan alas kaki, tapi mengapa rasa penyesalan tak kian pudar?!
Hingga akhirnya aku mendengar ternyata engkau masih bernyawa, dibawa ke tempat pengasingan karena dianggap hama subversif. Katanya?!


Tidak ada komentar