Breaking News

Perempuan Botak; Melawan Bualan Feminitas.


Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa pilihan yang saya buat punya resiko, resiko penolakan karena tidak sesuai dengan 'konsep cantik'. Namun saya harus menunggu hingga proses pemotongan rambut saya ini benar-benar tuntas.

Dimulai dari peringatan hari kanker anak sedunia  15 Februari lalu, seperti biasanya akan selalu ada aksi solidaritas peduli kanker yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat wujudnya seperti penyelenggaraan potong rambut sebagai bentuk kepedulian dan rasa kekeluargaan.  Saya baru  tahu kegiatan seperti ini dilaksanakan di tempat umum, seperti mall atau lapangan luas, ya tergantung situasi dan kondisi. Saya mau terlibat pada kegiatan ini, tapi sayang, saya tidak bisa menunjukan rambut saya di tempat umum (karena itu dilarang menurut agama yang saya yakini). Lantas hal tersebut tidak menciutkan keinginan sederhana yang tlah lama saya idam-idamkan, dan tentu saya tidak habis akal untuk hal tersebut. Walaupun tidak berada dalam forum yang sama, hari berikutnya ditemani kedua teman, saya pergi ke salon  melanjutkan keinginan hati.

Sesaat sebelum prosesi pembotak kepala  saya selesai, saya selalu dihujani pertanyaan-pertanyaan mengganggu dan itu membuat saya kurang nyaman duduk berlama-lama di salon tersebut, bukan hanyaa petugas  salonnya yang bikin saya berulang-ulang kali mengernyitkan dahi tapi juga tamu salon  yang saat itu berada di sana. Banyak sekali pertanyaan, eh lebih tepatnya judge mereka yang sebenarnya tidak pantas untuk dilontarkan kepada orang lain, bahkan kami tidak saling mengenal.  Mulai dari tuduhan bahwa saya sedang stres,  tuduhan saya putus cinta, sampai praduga mereka kalau saya mengidap penyakit parah. Coba dipahami seksama, bisakan kita berusaha mengontrol mana pertanyaan yang layak untuk diajukan dan tidak, seharusnya begitu. Dan yang lebih parah lagi adalah keputusan saya untuk memotong habis rambut saya selalu saja dianggap bertolak belakang dengan nilai-nilai kecantikan, karena seperti biasa kita sudah banyak sekali dicekoki dengan nilai kecantikan yang berstreotipe patriatkal dan standarat cantik sisa penjajahan masih melekat pada masyarakat, bahkan hal ini tak terbatas bias gender. 

Saya juga heran, kalau perempuan membuat keputusan seperti yang saya lakukan sekarang ini, mesti banyak sekali cercaannya. Tindakan yang saya lakukan selalu memilki label tersendiri di mata masyarakat, ditambah lagi  hidup di tengah masyarakat yang belum siap berhadapan dengan suatu hal yang keluar dari jalur wajar, maka sudah pasti hal itu aneh bagi mereka. Tidak sampai disitu tindakan saya menyumbang komentar dari berbagi kalangan, mulai dari keluarga dan teman, dari diolok dengan candaan seperti tukang parkir, cewek kurang kerjaan, sinting dan nyeleneh.  Semua itu muncul  karena saya dianggap tidak sesuai dengan selera biner dan feminitas yang dijunjung  masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya segregasi reposisi wanita di masyarakat, wanita dibatasi ruang ekspresinya. Beda ceritanya Saat laki-laki yang mengambil suatu tindakkan maka aksinya itu tak jarang dilabeli aksi heroik yang luar biasa, even hal tersebut juga bisa dilakukan oleh wanita. Meminjam istilah  Circuit of culture menunjukkan bagaimana makna gender dikonstruksi di tengah masyarakat yang cenderung menganut ideologi dominan, salah satunya ideologi patriark.
 Saya pun tak serta merta  benci dengan orang-orang yang saya hadapi hari itu, karena sebenarnya kita korban dari tuntutan sosial di sekitar kita, Circuit of culture (Hall, 1997: 15) dijelaskan oleh Stuart Hall dalam Teori Representasi, Representasi menjadi bagian penting dari proses dimana makna diproduksi dan dipertukarkan antara anggota dalam suatu budaya. Sekuel persoalan feminitas seperti rambut panjang nan elok, kulit putih, tubuh tinggi semampai, bertutur lemah lembut dan banyak hal lainnya, bahkan jika tuntutan itu dilakukan atau tidak, tuntutan tersebut tetap memjadi momok mengerikan.  Karena masyarakat pada umumnya selalu punya jargon sendiri yang bunyinya “yang biasa-biasa ajalah”, Nah, memahami jargon “biasa-biasa ajalah” ini yang bikin pusing kalau benar-benar dipegang teguh sama setiap individu, karena penilaian masyarakat akan jargon “biasa-biasa ajalah” juga memilki interpretasi yang bebeda, maka dari itu kalau saya simpulkan  tetaplah jadi diri sendiri karena selama itu pula, resiko apapun yang akan datang, kamu sudah siap. Gak usah susah dan rendah diri saat ada yang menilai dirimu hanya dari luar, karena kita gak punya banyak tangan untuk tutup mulut mereka tapi kita masih punya dua tangan buat tutup telinga. Dan lagi, kendali penuh atas otoritas tubuh memang hak setiap individu.

Saya sendiri sampai saat ini kagum dengan Gusti Arirang, bassis grup band Tashoora asal yogyakarta, yang punya gaya unik  dan berbeda. Walaupun tampil dengan rambut tipis dan rada botak, beliau  tetap terlihat cantik bahkan tanpa rambut yang menggelung, terlihat cantik karena kepercayaandirinya, ditambah lagi lihai memainkan alat musik yang erat sekali dikaitkan dengan maskulinitas, di sini Gusti Arirang seakan-akan mendobrak nilai-nilai yang sering dipakemkan, menurutku, Gusti Arirang berhasil menampilkan sisi feminin dan maskulin di saat yang bersamaan.







Tidak ada komentar