Breaking News

Menepuk Tepung di Telapak Tangan


Untuk memulai cerita hidupku yang melelahkan, juga sangat menyedihkan seperti burung-burung gereja yang disesatkan  mata angin,  terkapar di pelataran masjid dan di sinilah akhirnya tempat berhinggap sampai wafat, tapi aku ingat, aku bukan jenis unggas yang punya sayap, hingga dapat bebas mengintari angkasa, pergi ke mana suka, setiap hari menyapa matahari, berkaca di ribuan hektar samudra  membentang, berpacu cepat dengan arus sungai yang deras dan  merasa berkuasa karena semua yang ku lihat di bawah bukan berarti apa-apa, mereka hanya kumpulan titik-titik yang suka membakar berton-ton karbon dioksida membumbung di langit di tempatku melayangkan diri. Hingga aku sadar itu bukan takdir hidupku. 
Aku hanyalah tumbuhan yang hidup di tumpahan tanah gembur, subur juga miliknya seorang tuan yang miskin,  yang sudi memelihara kami penuh dengan dedikasi, yang akhirnya cuma menjadi makanan pokok sehari-hari mengganjal perut sejengkal dan pendengar setia semua cerita yang menghiasi usia senjanya, ia juga suka menghujat kami ketika hendak melahap daging-daging sintal kami, katanya mengapa kami kadang menjadi begitu keras, membuat giginya lelah  mengadu geraham berulang kali yang sudah tak seberapa berdaya ini, kekeuhnya tangkas. 

Ia sering termenung, menekukkan lehernya yang tak lagi mampu menopang tengkorak juga beban otak di kepalanya,  sampai waktu matahari di ufuk berpamitan  dan ribuan nyamuk arogan mengintari kepalanya
layaknya  peribadatan tawaf yang maqbul, mengatain orang tua ini benar-benar tak bisa lagi diharapkan, lihatlah tulangnya kering, jangankan darah segar, lemak jenuh pun takkan kau dapati ketika hendak menusukkan muncong-muncong hipodermik ke tubuhnya. "Cuih" tutup sebagian nyamuk menghina baginda kami. 

Ya seperti itulah hidup, tuntutan makanlah yang bisa  memastikan tetap berjalannya kehidupan, bahkan saling mematikkan adalah cara untuk bertahan hidup, benar bukan! tampaknya kalahlah hinaan dengan lapar tak dapat tertangguhkan, hingga riwayat tamat beralamat bersama rasa kenyang. Sebagian nyamuk penuh keyakinan di ladang kelaparan itu, enggan mengindahkan hinaan segerombolan nyamuk arogan sebelumnya, dan aku dari bawah sini hanya memerhatikan gerakgerik lincah nyamuk-nyamuk itu berpindah, terlihat dari sini tubuh mereka seperti tai-tai cicak yang mengawang-awang, suara bising kepakan sayap tipis mereka terdengar seperti serine ambulan  pembawa mayat koruptor yang belum selesai proyek tendernya. Suasana sungguh ironis dan dramatis.  Sampai akhirnya, nyamuk-nyamuk yang semulanya kulihat di angkasa, tergontai tak berdaya di atas permukaan tanah gembur ini, jatuh persatu-satu seperti pasukan perang yang ditaklukkan dengan panah-panah Archer dan jadilah ia pupuk organik, membusuk bersama waktu. Mati keracunan. Karna dermawan, ku berilah ia sedikit luas tanahku, ku siapkan pemakaman terbaik diakhir hidupnya. 

Melihat pemandangan itu, tak terlalu mengenyuhkan perasaanku, aku pikir lebih baik nyamuk-nyamuk itu mati segera, dari pada lelah merantau ke hulu balang hanya mempertahankan hidup yang tak pernah genap sebulan, menderek cairan amis dan beratnya hampir 3 kali berat tubuh mereka.

Kulihat juga Tuanku, si faqir miskin itu lebih terlihat iba, daripada menyaksikan nyamuk-nyamuk ini tergelepak mati keracunan setelah hinggap dan mengisap cairan apapun di balik kulit lusuh yang terlihat seperti daun pisang kering; coklat dan ringkih. Tuanku Sibukk menghempas udara,  tangannya meliuk-liuk menghalau serangan bertubi-tubi tusukkan muncung nyamuk  militan. Hingga akhirnya menyerah dan beranjak pergi. 

Tinggallah aku bersama

Tidak ada komentar