Syair Kera dan Banyak Cerita Soal Kehidupan
Bagaimana bentuk sumbangsih terhadap peduli perubahan iklim di kotaku? mungkin itulah hal yang pertama muncul di kepalaku saat seluruh anak-anak bahkan manusia dewasa di belahan dunia lainnya telah turun ke jalan mendemokan peduli perubahan iklim. Dan aku mulai sedikit demi sedikit mengurangi penggunaan plastik, mungkin itu belum seberapa tapi jika aku sendiri melakukannya, mungkin di luar sana masih banyak "aku" yang lain melakukan hal yang sama. Tapi di waktu yang lain, aku terpikir rasanya mengurangi penggunaan plastik masih kurang, aku perlu kegiatan atau rencana lain, dan sekarang aku menemukan kesempatan itu.
Sore itu aku tak sengaja melihat postingan diskusi lingkungan di Riau, maka segera aku bergabung di diskusi yang diadakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jikalahari yang bergerak pada isu ekologi di Riau. Apa yang terbayang di otakku tak sam ketika aku sudah sampai di tempat diskusi tersebut, hanya ada segelintir teman-teman yang datang itupun dapat dihitung dengan jemari ini.
Jikalahari bersama Komunitas Syair Kera berdiskusi menggagas sebuah pertunjukan peduli lingkungan dengan menampilkan teatrikal kolosal yang akan ditampilkan oleh 100 orang, namun hingga saat ini masih terkumpul setengah dari jumlah keseluruhannya. Dan kemarin kami baru melakukan latihan bersama di Anjungan Seni Idrus Tintin, tempat biasanya orang melakukan pertunjukan seni di Riau. Di sana kami dibimbing oleh Seniman teater bernama Willy dan beberapa teman yang sudah bergabung lebih dahulu di Syair Kera. Semua kegiatan di sana berjalan lancar dan penuh rasa kekeluarga, dan masih ada 9 hari lagi untuk berlatih.
Menjelang magrib yang sendu, kami sejenak melakukan istirahat, siapa yang hendak ibadah dipersilahkan, dan siapa yang cuma mau istirahat di kedai kopi di silahkan juga. Sebentar aku dan temanku, berswa ria menikmati senja yang segera mungkin dikulup langit dan berganti gelap. Lalu bergegas pergi ke mesjid. Namun sepertinya di sana tidak ada fasilitasnya, maka kami segera mencari musholla terdekat di sekitaran Anjungan Seni.
Sampailah kami di tempat tujuan, dan langsung melakukan salat. Singkatnya, karena sudah malam aku bersama temanku merasa sedikit lapar yang rasanya perlu diganjal, di sana kami melihat gerobak bakpao yang sepertinya menjual bakpao yang enak, kami langsung cus membelinya, siapa sangka penjualnya tidak tahu sopan santun, usianya sudah tua, lalu cara berpikirnya yang kolotnya minta ampun, bukan hendak mencecar tapi rasa geram itu hampir tidak bisa ditahan, cuma ketika menghadapi seorang yang macam itu, baiknya ditanggapi becanda saja, percuma jika menjawab dengan serius tak akan mengena.
Bayangkan jika orang asing, bertanya soal "Apakah anda 'masih' gadis?!" tentu pertanyaan yang absurd untuk dijawab, karena sangat-sangat klise?!, awal mendengarnya saja rasanya kuping sudah panas, dan rasa terkejutnya mau buat mataku keluar, saking heran bukan kepalang. Tentu saja aku minta maksud yang jelas dari pertanyaannya, ya tentu saja dengan nada yang hampir tak terkontrol, lalu Si Penjual Bakpao pun tampak berusaha membawa suasana kembali baik, tapi kali ini topiknya sama sekali tak nyambung dan menganggu, kalau saja perutku tidak grasak-grusuk kelaparan, sudah pasti sejak menit pertama bercakap, aku dan temanku tak mau berdiri lama-lama di sana. Namun mau dikata apa, soal perut tidak ada diskusi lama.
Sungguh hal yang aneh, semakin banyak kita mengikuti kegiatan yang berada di luar zona aman, semakin banyak pula jenis orang yang bakal dijumpai, dengan segala macam tabiat, sifat dan kelakuan. Dan aku cukup bersyukur punya kesempatan mengikuti Syair kera ini, selain karena bermanfaat untuk relasi, aku rasa ini salah satu langkah maju bagiku untuk peduli lingkungan.
Tapi ada beberapa potong cerita yang tertinggal sesaat sebelum kami hendak pergi berwudhu di musholla yang kami tuju, waktu kami hendak mengambil wudu segerombolan anak-anak lelaki duduk santai mendengar azan dan beberapa memperhatikan wajah-wajah kami yang menuju kamar mandi, bukan menyapa, tapi membandingkan mana cantik dan yang lebih cantik satu. Sungguh pemandangan yang -yang menyedihkan untuk kami (aku dan temanku).
Sewaktu taman-taman dari Syair Kera yang sore itu lengkap dengan style trendi dan muka yang mumpuni, kami berdua tak bisa berbuat banyak, pasti kami lewat akan diolok-olok tak berdaya dengan bocah-bocah.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, aku dan temanku lewat, aku kira kami berdua akan dioloknya ternyata hanya temanku seorang, kata salah satu dari gerombolan anak itu menunjukan kepada temannya, "Eh kau sama kakak ini" terkekeh geli menggambarkan betapa besarnya temanku ini, lalu aku yang dibelakangnya harus memberi tahu bahwa yang dibuat anak itu tidak boleh, pendidikan tidak harus soal pelajaran hitung, adab adalah utama. Bagaimana aku menegur mereka memang agak kurang pas, karena sedikit terburu-buru juga, hanya sebentar aku mendekat dan berkata "Eihhh kalian gak boleh begitu" kuusahakan dengan suara yang lembut, karena jika aku mengamuk takkan ada yang berubah untuk mereka, bahkan yang ada hanya boomerang tertawa hina bagi kami berdua. Sungguh satu hari yang menyenangkan dan banyak cerita.
Foto: Aldo Jikahari
|


Tidak ada komentar